Sangkar Abu Abu

Seperti biasa Arla memulai hari dengan suntuk, memikirkan hal hal yg mungkin tidak perlu ia pikirkan.

smartphone nya bergetar, di dalam nya tertulis

“gw lagi stres berat,beratnya harus kerja dan punya tiga putri yang masih kecil -kecil” diakhiri tidak dengan titik tanda dia masih akan meneruskan.

aku balas

“loh koq masih kerja, katanya mau resign yah… bukannya bisnis lo semua sudah sukses jeng??”

Feris, sahabat ku semenjak kuliah dulu. Ia super supel, modis, cerdas, mandiri dan tenar. entah dimana letak ke cocokan kami yang jelas waktu selalu terasa pendek jika kami sedang hang outbersama. Dia menikah cukup muda, menikah dengan pria sebaya yang sangat bervisi, senang bukan main mba ika ini, begitu aku memanggil. masih ingat sumringahnya mengatur semua perlengkapan pernikahannya, yah tidak salah ia memang juara.

walau sudah menikah, persahabatan kami tidak luntur, kami tetap sering jalan bersama dan menghabiskan waktu sesekali disela sela kesibukanku bekerja. memang ada yg berbeda tapi aku fikir itu wajar, toh statusnya memang sudah tidak seperti dulu lagi. ditengah mengobrol ia sibuk memegang handphone nya membalas sms, atau ditelpon dari rumah karena anaknya menangis, atau tiba tiba sang suami sudah ada di depan mall dan meminta nya untuk pulang. Wajar, aku tetap berfikir itu sangat wajar, toh anaknya dirumah dijaga oleh ayah dan ibu  feris, ku fikir aman, tapi sekedar menelpon untuk bilang anaknya menangis adalah wajar, karena manja dan buat lucu lucu an hihihi…

ku tanya Ika, “knapa ka? anak lo nangis?”

ia jawab se adanya “iya, kata neneknya kepala nya k jedug pintu tadi”  sembari memasukan hape nya ke dalam tas.

kami melanjutkan obrolan, tidak lain tidak  bukan, seputar bisnis kami atau ia sekedar menasihati ku menapaki hidup :p

lama berselang.. aku sibuk masuk dalam kehidupan karir yang fluktuatif, tetap sibuk dan full scheduled adalah pasti.

agenda meeting yang betumpuk dan agenda agenda lain yang jelas harus selalu aku ikuti, jujur aku mulai kelelahan, jarak dari kantor ke rumah yang juga sangat menguras tenaga. tapi pekerjaan ini bisa dibilang lumayan menyenangkan, karena membuat ku merasa dapat menebus berbagai macam dosa menyia nyiakan waktu dimasa lalu, yah ini memang tidak bisa dijadikan sebagai pembenaran, tapi aku bersyukur dapat memiliki waktu yang tepat untuk mengaktualisasi kan diri untuk tetap hidup dalam manfaat yang amat aku rasakan.

siang setelah meeting dalam perjalanan aku lihat ada notifikasi blackberry messenger, dan ternyata Ika,

“fa gw stress banget… :((” tambah emoticon menangis diakhir

aku tinggal, lama dan tidak langsung ku balas, aku menyelesaikan beberapa pekerjaan yg jadi hutang hari ini.

pukul 18.30 wib, masih dikantor selesai meeting dan aku mulai mengecek beberapa email yang masuk lewat phone cell ku. 6 Notifikasi blackberry dan salah satu nya adalah Ika, weww.. aku panik dan langsung ku balas,

“ya darlaa… maaf bgt gw baru selesai meeting, baru aja sampe kantor nih”

dia diam, aku kembali menyambung

“knapa ka, anak anak sakit?, ga mungkin kurang duit kan, gw tau bisnis lo maju pesat”

Ika tetap diam, ah ku pikir dia sedang beristirahat atau sedang bermain dengan anak anaknya.

tapi tiba tiba, notifikasi berbuyi..

“anak anak baru tidur, suami gw belum pulang…”

“ditahun kelima pernikahan gw, rasanya ada yang hilang dalam diri gw… :((“,lagi ika menyisipkan emoticon sedih ber urai air mata.

written message, OH iKA masih melanjutkan ketikannya.

“bukannya gw gak bahagia la, gw punya 3 anak yg lucu, cantik dan selalu jadi kebanggaan gw, suami gw bertanggung jawab dan selalu melaksanakan kewajibannya menafkahi gw, tapi… jadi termasuk ga beryukur kah gw kalo  gw tetap merasa ada yg hilang dalam diri gw la.”

dia diam, tanda nya menanti respon.

“hilang gimana sih maksdnya ka, mungkin lo lagi jenuh kali ka, gw bingung deh, lo knapa tetep kerja sih ka?, padahal kan bisnis lo udah maju pesat, anak anak juga butuh perhatian dirumah…”,

tanpa menunggu, Ika membalas

“itu dia la, itu diaa :(( itu yg bikin gw stress, gw cape kerja, cape bgt, belum lagi gw harus ngurus tiga anak plus rumah, plus suami, gw juga harus tetep intens sama bisnis supaya tetep up. lo tau kan gaji gw dan suami brapa, kalo sampe bisnis ini kacau, gw ga kan bisa mimpi membangun rumah tangga gw la”.

” ya udah knapa lo gak resign aja, konsen sama bisnis, toh suami lo juga tetep kerja kan?”,ku junjung logika dalam hal ini.

“justru…mm….gw takut kalo resign” Ika ragu mengungkap.

“takut knapa? koq aneh deh” ujarku singkat. aku lebih suka membiarkannya terus mengalir bercerita dari pada menanggapi intensif.

“gw merasa kehilangan kebebasan, kebebasan gw sebagai pribadi, seperti yag lo tau, gw paham koq kewajiban dan hak gw sebagai istri sebagai ibu dan juga sebagai menantu, tapi masa sih gw jalan sebentar sesekali gak boleh :((“, duh dia pake emotikon sedih lagi nih.

written message , aku menunggu..

“suami gw kaya ga pernah seneng tiap kali gw jalan sama temen, padahal apa salahnya, sekali sekali aja kan la, alasannya kasian anak anak😦, pernah waktu itu suami gw nongkrongin gw lagi ngobrol sama temen2 kantor gw, dia cemberuut aja :(( ini nyiksa banget la”

written message, menunggu lagi..

“kmana mana gw selalu di suruh bawa anak, tapi giliran dia gw suruh gantian, dia gak pernah mau :((, bukan nya gw gak mau bawa anak, tapi kan ini anak dia juga..”

“coba seandainya dia bisa kasih gw sedikit ruang buat diri gw sendiri, jalan sama temen, toh gw inget waktu koq, dan semua temen2 gw juga dy kenal, atau misal gantian bawa anak jalan jalan, gak melulu harus gw”, huft masalah Rumah Tangga dan komunikasi aku mulai berfikir keras..

“gw jadi takut mau resign, karena kalo gw resign dan jadi Ibu Rumah tangga, gw takut akan semakin ga bisa punya ruang buat diri gw sendiri, gw geser dikit pasti langsung disuruh pulang.. :((”

aku sendiri bingung mau menanggapi apa, bukan apa apa, karena aku sendiri belum menikah.. tapi pun aku tetap ber pendapat..

“ka… coba bangun komunikasi sama suami, kalo lo emang butuh ruang sesekali, cukup bilang. bener memang kata lo, baiknya porsi kasih sayang ibu dan ayah terhadap anak memang harus seimbang, tapi skali lagi, ini mungkin memang karakter suami lo, kalo pun lo mau dy berubah, lo harus bisa ajarin dy… dan layaknya orang belajar.. pasti butuh waktu.., dan jangan lupa.. berdoa.. tunduk.. dan sykuri setiap hal yang lo dapat dalam hidup selama ini”. aku meng akhiri dengan titik.

Ika tidak membalas, aku harap dy bisa lebih tenang dan bisa sedikit bermanfaat buat hatinya yg sedang risau.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: