Jalan Menuju Substansi Laskar Pelangi Quw

Ini adalah hal yang memang telah direncanakan oleh Tuhan, terkait dengan Takdirku membaca buku tetralogi Lascar Pelangi karangan penulis yang menjadi tersohor setelah menulis buku ini, ia mengedepankan nilai-nilai pendidikan, budaya dan agama dalam buku tulisannya. Telah lama ku miliki buku edisi pertama tetralogi tersebut, Laskar Pelangi, bahkan jauh dari buku tersebut diangkta disebuah talk show disalah satu stasiun televisi swasta yang menjadikannya semakin best seller, aku membelinya atas rekomendasi dari seorang teman di tempat kursus bahasa inggris dengan tingkat Conversation 2. Saat itu ku ingat betul, aku benar-benar sedang sangat patah hati, biasa polemic cinta para wanita dewasa awal. Dalam keadaan hati yang carut marut sehabis kursus bahasa inggris aku memutuskan untuk pergi ke toko buku bersama teman-teman kursus yang sebenarnya tak pernah kuaanggap dan kupedulikan keberadaannya, tapi saat itu hati sedang hampa, jadi aku agak malas langsung pulang kerumah.

 

Kami beramai-ramai sepakat untuk sebentar ke toko buku membeli perangkat untuk kelas, lalu aku sempatkan melihat-lihat buku terbaru yang sedang terbit. Perlu diketahui aku sangat suka membaca, khususnya mengenai hal-hal yang prinsipil dalam hidup. Aku mengambil buku seadanya, ternyata yang kuambil adalah sebuah buku yang berjudul Laskar Pelangi, buku yang ternyata dalam beberapa bulan kedepan akan menjadi panutan bagi seantero Indonesia khususnya seolah mengkritik sistem pendidikan di Negara ini.

 

Satu hal yang menarik saat itu, belum juga kubaca ringkasan cerita dibalik sampulnya, tapi aku sudah menajatuhkan pilihanku pada buku tersebut  karena buku itu sangat tebal bobotnya. Itu saja. Titik. Jujur tak ada alasan lain. Aku pikir dengan kondisi yang sangat hampa, buku tersebut dapat membantuku melepas waktu. Kubaca dan kulihat buku tersebut, namun tak ku temukan ketertarikan khusus pada buku tersebut. Lalu kutanyakan pada teman se kursus bahasa inggrisku itu. “hey bagus tidak buku ini?”, ia menjawab “ buka lah buku ini, stelah itu hanya akan ada cekikikan dalam perjalanan bacaan mu”, oww..menarik pikirku, apa benar. Aku angkat buku tersebut, menuju kasir, dan lunas.

 

Sesampainya dirumah tak juga kubaca buku itu, aku pusing dan bingung Karena gaya bahasanya yang sangat rumit, fiosofis dan sangat sastra, bagaikan karangan modern Novel Paromoedya Ananta Toer. Lalu buku itu pun tak kunjung kubaca, hingga aku tahu buku tersebut sangat lah menarik dan membangun, motivator ulung kata sahabatku. Selain itu aku juga baru saja mengetahui bahwa ternyata buku tersebut berupa tetralogi, karena dalam buku cetakan pertama yang aku beli sama sekali tak kupahami bahwa buku tersebut akan ada sambungannya.

 

Aku adalah mahasiswa FISIP, Hubungan Intenasional ,menjadi jurusan pilihanku yang terpilih pun bukan karena aku ingin, tapi karena tidak ada pilihan lain saat itu. Dalam kamus aktivitas kemahasiwaan ku diskusi dengan teman dan sahabat selalu menjadi favorite yang tak tergantikan. Teman-teman ku selalu sibuk membicarakan buku terbitan baru dan saling memberi rekomendasi untuk dibaca dan kembali didiskusikan. Pada suatu hari tanpa sadar mereka tengah mendiskusikan buku yang selama ini hampir terlupakan oleh ku, “Laskar Pelangi”, dua orang sahabatku bahkan saling berlomba beradu cerita menjelaskan pengalaman pribadi mereka menjelajahi Pulau Belitong di arena imajinasi tingkat tinggi. Tersadar yang dibicarakan adalah buku yang hanya ku taruh dilemari, aku mulai tertarik. Lalu ku utarakan pada kumpulan sahabatku bahwa aku telah lama memiliki buku itu dan belum juga membacanya. Satu tanggapan mereka “ Aneh!!!! Buku sebagus itu hanya dipajang”. Mereka terang kan padaku, betapa perlu pemuda jaman sekarang tahu tentang hidup yang lebih bermakna, bukan hanya sekadar mengejar cita-cita dengan teori permen karet yang nampak besar dari luar padahal kopong dan rapuh, tapi bagaimana caranya mengejar sesuatu yang lebih berati dalam hidup dengan perencanaan.

 

 Ternyata walau telah menadapat kritikan yang sangat tajam mengenai keenggananku membaca buku tersebut, aku tetap saja tidak membacanya, ahhh…..entahlah kenapa. Rasanya memang tidak ada ketertarikan. Lalu salah seorang sahabat karibku, menganjurkan agar aku memabaca buku kedua dari tetralogi tersebut, menurutnya mungkin aku akan menemukan semangat yang selama ini telah menguap dalam hidupku Karena telah sebelas kali kuajukan proposal skripsi dan belum juga kukantongi acc dari pembimbing. Aku baca Sang pemimpi dan ternyata woow….luar biasa, apresiasi yang besar dari saya seorang mahssiwa biasa yang juga sedang memulai bermimpi, Karena telah berhasil memberikan setruman pada neuron yang sedang mati suri dalam kepala ku. Aku semakin penasaran, tapi bukan pada Laskar Pelangi, tapi pada Edensor, itu adalah buku selanjutnya dari tetralogi Lascar Pelangi, kubaca Edensor tidak sampai satu hari, berhasil ku khatamkan, dan luar biasa, energi positif sebagai petualang kembali menyeruak masuk dalam pori-posi terkecil seorang yang bebal seperti aku.

 

Setelah hampir satu setengah tahun, Lascar Pelangi ternyata semakin mendulang prestasi. Buku tersebut hendak difilmkan oleh para sineas muda yang juga telah banyak menelurkan karya dan mendapatkan banyak penghargaan dari dan bukan pemerintah. Entah kenapa baru kuingat dan baru tertarik untuk membaca Lascar Pelangi.

 

Tapi sekali lagi aku mengingat ternyata setelah hampir setahun ini buku tersebut berputar-putar dari tangan yang satu ketangan yang lain. Aku lupa…, lupa siapa yang pinjam.

 

Setelah aku lupa mengingat akan kelupaan ku yang mengenai siapa-siapa yang meminjam buku tersebut, buku tersebut ternyata hadir sendiri dan memilih berjumapa kembali dengan ku di secretariat masjid kampus, secara tak sengaja buku tersebut tergeletak di dekat charger laptopku. Firasatku bilang buku tersebut adalah miliku, dan benar saja setelah kubuka halaman pertama buku tersebut terdapat tanda tangan arabku yang menggunakan spidol berwarna hijau tua sebagai tanda penggores.

 

Huaaaaahhhhh……jodoh betul pikirku, saat itu kembali aku dalam keadaan fluktuatif, kali ini kondisi hati berada dalam kondisi fluktuatif yang sangat rendah. Biasa aku sedang muak dengan diriku karena terjebak dengan kemunafikan hidupku sendiri.

 

Dengan kondisi yang payah dan terjebak dalam ketololan keduniaan aku membaca Laskar Pelangi, Karena tak punya pilihan lain. Ku baca lascar pelangi lembar demi lembar, anehnya tak lagi kutemui kata-kata yang dulu terlihat sangat sulit dipahami. Aku membaca buku itu dengan sangat seksama dan detail. Tiba-tiba aku seperti sedang bercengkrama akrab dengan sang penulis di bawah pohon fillicium yang sering digambarkan penulis.

 

Dari kata-lata buku tersebutt, Tuhan seperti mengatur dengan sistematis mengapa harus saat ini baru kubaca buku tersebut. Buku yang ku beli tanpa ketertarikan, buku yang hanya jadi penghuni lemari, buku yang malah jadi santapan gratisan teman-temanku. Yang padahal mengandung pelajaran yang sangat mahal. Sungguh ini lah hikmah dibalik kejadian, sungguh ini lah dibalik sistematika cerita hidup yang di setting Tuhan untukku selanjutnya. Buku itu seperti menjawab secara gambling mengenai banyak hal yang sedang aku butuhkan saat ini dan tidak saat itu. Subahanallah……Eryn, tokoh yang mungkin hanya lewat dalam buku tersebut malah menjadi salah satu pembangkit semangat ku dikala aku tertinggal lulus dengan sahabat-sahabatku, sedang aku masih saja harus mengurus proposal skiripsi yang belum juga di ACC. Lalu Lintang, Flo dan ukiran-ukiran indah sang penulis mengenai nasib, usaha dan takdir. Dan terutama tentang kisah ikal dan A Ling, tentang positif thinking dan juga keragu-raguan terhadap sesuatu. Juga mengenai akibat dari ketidak tahuan namun sok tau terhadap sesuatu. Indah… aku merasa menjadi bagian yang tepenting lagi dalam dunia ini…terimakasih…..

 

 

AdinDa LaTifa 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: